fbpx

Bagaimana menghadapi Resesi Indonesia bulan depan?

Berdasarkan banyak berita yang beredar dari Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD mengatakan, resesi ekonomi Indonesia sulit terelakkan.

Bahkan, dirinya mengisyaratkan Indonesia bakal masuk jurang resesi ekonomi ini pada kuartal III ini.

Mahfud mengatakan, pertumbuhan ekonomi RI sudah terkontraksi hingga minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Resesi ekonomi terjadi apabila sebuah negara mengalami pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Meski demikian, menurutnya resesi itu bisa saja membuat Indonesia mengalami krisis ekonomi. Namun masyarakat tidak perlu khawatir. Mengingat resesi bukanlah krisis ekonomi seperti yang lalu.

Kita dituntut tetap kreatif mengembangkan usaha yang dapat menghidupkan perekonomian dan yang paling relevan adalah dengan bisnis online.

Memanfaatkan fasilitas internet untuk belajar dan mulai berwirausaha (berjualan) dari hal terkecil yang bisa kita lakukan.

Seperti onlineshop : yaitu segala jenis penjualan online dengan stok barang dan menjual kembali (reseller) atau menjadi agen atau distributor.

dropship : yaitu mempromosikan produk orang lain dan baru melakukan belanja sesuai dengan order ke suplier atas nama toko online kita.

Affiliate marketing : yaitu mereferensikan produk orang lain dengan mendaftarkan ke website affiliasi dan mempromosikan dengan link affiliasi.

Tentu semuanya dibutuhkan ilmu bagaimana cara mempromosikan online seperti sosial media marketing, marketplace marketing dan bagaimana mencari trafik, hal teknis seperti membuat konten marketing, copywriting, website dan lainya

“Bulan depan, hampir dapat dipastikan 99,9 persen akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia,” ujar Mahfud, Senin (31/8).

Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi di rentang minus 0,5 persen hingga 2,2 persen. Namun, ia mengimbau masyarakat tidak perlu panik lantaran resesi ekonomi bukan berarti krisis.

“Tapi resesi itu bukan krisis,” katanya.

Selain itu, ia menegaskan, bahwa pemerintah telah mengantisipasi kondisi tersebut. Salah satunya, dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Sementara, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad menjelaskan, resesi memang tidak segawat depresi atau krisis ekonomi. Namun dampaknya juga bisa dirasakan oleh masyarakat.

Secara umum kemampuan daya beli akan terasa menurun. Penyebabnya pemasukan yang lebih rendah. Bagi pelaku usaha pendapatan akan menurun, sementara bagi pekerja kemungkinan besar perusahaannya akan menunda pemberian bonus dan sejenisnya karena melakukan efisiensi.

“Jadi sederhana di kantongnya nilai riilnya berkurang. Tapi yang terburuknya ya bisa ada gelombang PHK massal. Itu yang harus dihindari,” terangnya.

Dalam kondisi seperti itu mungkin sebagian besar masyarakat masih bisa berbelanja kebutuhan sehari-hari. Nah bagi masyarakat yang pemasukannya tak berkurang ada baiknya untuk berhemat.

Tauhid menyarankan, untuk menunda seluruh pengeluaran untuk kegiatan di luar kebutuhan pokok, seperti liburan. Lalu uangnya bisa dialihkan untuk berinvestasi.

Dia menyarankan, untuk investasi di pasar modal, karena sudah mulai dalam tren rebound, namun dia tidak menyarankan untuk berinvestasi di nilai tukar.

“Bisa juga investasi di jenis yang likuid seperti emas. Sehingga gampang untuk dicairkan,” terangnya.

Sementara untuk masyarakat yang pendapatannya berkurang ada baiknya mulai fokus menata kewajiban utang jika memiliki cicilan. Manfaatkan stimulus yang diberikan pemerintah seperti restrukturisasi utang maupun cicilan kendaraan.

Lalu bagi pengusaha mikro yang pendapatannya tergerus dan memiliki cicilan utang modal usaha, dia mengimbau untuk segera mencari pinjaman yang bunganya lebih murah.

Pemerintah juga sudah menyediakan fasilitas bantuan pinjaman untuk UMKM seperti KUR dengan bunga yang sangat rendah bahkan ditanggung pemerintah.